Keliling Dunia Ke Jepang : Pioneer Halal Food

Oleh : Evi Yulianti (Anggota KOMBIS)

“Bukan takut dengan Islamnya tapi karena kurang pemahamannya. Jadi bagaimana kita meng-komunikasikan konsep halal yang sederhana,” ucap Bapak Adi saat ditanya tentang Islam Phobia. Pak Adi salah satu warga Negara Indonesia yang saat ini sedang menempuh pendidikan jenjang S3  di Jepang dan menjabat sebagai manager di Sariraya berbagi cerita dalam kegiatan keliling dunia yang digelar oleh Pejuang Subuh Pondok Indah (PSPI) pada Minggu (05/09/2021)

Sariraya Co., Ltd merupakan sebuah perusahaan Indonesia yang menjadi pioneer bisnis makanan halal di Jepang sejak tahun 2005. Saat ini Sari Raya Co., Ltd telah memiliki beberapa unit usaha di antaranya : produksi tempe, bakso halal dan sambal pecel, toko retail produk-produk makanan halal, restoran halal, halal fried chicken, dan impor serta distribusi produk halal dari berbagai Negara terutama Asia Tenggara khususnya Indonesia ke Jepang. Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan, Sariraya Co., Ltd akan memberikan beasiswa bagi mahasiswa berprestasi yang memenuhi kriteria.

Pangsa pasar dalam pandangan orang Jepang asli. Belum banyak yang memahami. Sedang berusaha untuk terus mengedukasi. Ada beberapa tempat yang pemerintah faham dan memberikan sport makanan halal dan prayer stage. Karena di Jepang tidak mudah menemui bangunan masjid. Bukan nberarti di Jepang tidak ada masjid. Masjid sendiri ada di Jepang hanya saja bangunan masjid disana tidak seperti di Indonesia yang dengan sangat mudah bisa kita temui disetiap sudut kota mau pun desa.

Untuk peluang kerjasama UMKM Indonesia ke Jepang dari pihak sariraya sedang meng-upayakan untuk bekerjasama dengan pihak bank BRI sudah dalam tahap pembicaraan dan perencanaan. Asal secara kwalitas dan kwantitas produk yang dari Indonesia sesuai dengan standart dan bersedia untuk repeat order persiapan jika nantinya produk berhasil dipasarkan dan laku banyak di Sariraya. Belajar dari pengalaman ada beberapa yang produknya sudah laku banyak tapi tidak bisa repeat order sehingga membuat pelanggan kecewa.

“Orang yang tinggal diluar negeri pada umumnya merindukan banyak makanan khas dari kampung halamannya. Itu kenapa terciptanya ide untuk menghadirkan makanan Indonesia di luar negeri” tambah Adi

Makanan berbentuk saos adalah khas dari banyaknya makanan di Jepang. Lalu ada seorang audience yang bertanya apakah ada saos yang halal untuk dikonsumsi kita orang muslim yang sedang ada di Jepang. Kita bisa memilih makanan apa yang akan kita makan. Di Jepang belum ada standar halal seperti MUI. Juga belum ada sertifikasi halal seperti di Indonesia.

Standar halal di Jepang tidak bisa disamakan dengan di Indonesia. Istilah makanan dengan label muslim friendly adalah rekomendasi makanna halal yang bisa dikonsumsi oleh kita umat muslim. Ada satu aplikasi yang diluncurkan untuk kita bisa mengecek makanan yang akan kita makan yaitu aplikasi Japan Halal. Jawab Adi menjawab pertanyaan dari audience

Halal di Indonesia sudah ada undang-undangnya. Butuh waktu 97 hari untuk bisa sertifikasi halal. Dan dipercepat menjadi 21 hari kerja untuk bisa mendapat sertifikasi halal.

Kembali ada audience yang bertanya mengapa Malaysia lebih berkembang secara produk mau pun konsultan yang ada di Jepang. Karena Malaysia sangat cerdas. Mereka mengambil langkah disaat Indonesia masih ribet. Bahkan dari beberapa egara lain seperti Pakistan dan Banglades juga menjadi konsultan dan mendirikan usaha disana.

Iya harusnya Indonesia. Tapi ada beberapa mekanisme untuk mendirikan halal food disana yang kita harus taati. Seperti mekanisme penyedia halal, auditor halal dan lain-lain. Pelatihan dan sertifikatnya juga diperlukan jadi tidak bisa mengklaim untuk berkata saya ahli halal atau saya anti halal ada step-step yang harus dipenuhi terlebih dahulu.

Wajib pendidikan di Jepang sama dengan pendidikan di Indonesia yaitu Sembilan tahun. Jepang adalah salah satu negara maju tapi untuk pendidikan tidak ada yang digratiskan siswa tetap diwajibkan membayar dengan nominal yang relative murah.

Aziz menuturkan bahwh untuk beasiswa S1 hingga S3 dari kampus maupun pemerintahan Jepang pada mahasiswa Indonesia setiap tahunnya selalu ada peluang yang bisa didapatkan dan digunakan untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi di negeri Sakura tersebut. Tapi kebanyakan mahasiswa Indonesia akan berangkat ke Jepang jika sudah pasti diterima. Padahal menurut pengalaman salah satu warga Indonesia yang tinggal di sana dan menempuh pendidikan S3 di Jepang peluang untuk mendapat beasiswa akan lebih banyak saat sudah berada di Jepang.

Post Your Thoughts