Keliling Dunia ke Zanzibar: Negeri penuh Rempah

“Jangan menjadikan Zanzibar sebagai negara sendiri karena terlalu kecil”, kata Presiden Soekarno. Zanzibar merupakan sebuah negara ke-tiga penghasil cengkeh terbesar di dunia. Mayoritas pendudukan adalah petani rempah. Pendudukanya hidup penuh kesederhanaan Pendapatan terbesarnya juga didapat dari pariwisata. Begitulah kata dari Feri Agustian Soleh, seorang warga Indonesia yang tinggal di Zanzibar dan berbagi cerita dalam kegiatan keliling dunia yang digelar oleh Pejuang Subuh Pondok Indah (PSPI) pada Minggu (8/8//2021)

Feri menuturkan tentang Zanzibar ketika berada disana. Zanzibar sebuah kepulauan di sebelah timur pesisir Afrika dan termasuk dalam wilayah Tanzania. Jika di Jakarta jam 7 pagi, maka di Zanzibar sekitar jam 3 pagi. Mayoritas adalah beragama Islam, sekitar 99 persen. Kendati demikian, ada juga gereja bahkan kasino. Pakaian penduduk Zanzibar juga bebas. Boleh pakai jubah, peci, baju pendek tanpa ada yang mengomentari. Makanan masih banyak yang halal, kecuali di daerah bandara. Masyarakat Zanzibar juga penggila jahe. Banyak makanan dengan menggunakan tambahan rempah jahe.

Di Zanzibar juga sudah banyak sekali resto yang sudah dibuka disana. Seperti resto Jepang, Italia, dan Vietnam. Untuk makanan Indonesia disana juga ada hanya saja belum popular seperti resto Jepang dan Italia. Jadi jangan takut kelaparan jika ke Zanzibar.

Di Zanzibar, wanita lebih dipercaya bandingkan laki-laki. Anak-anak disini juga bebas bermain dengan alam terbuka tanpa takut diculik, dirampok atau orang jahat lainnya. Zanzibar benar-benar aman. Bentuk rumahnya Zanzibar terbuat dari kayu yang ditempel. Jika di Ibaratkan dengan bahasa sunda adalah leweng. Untuk trasnportasi Zanzibar sedikit tertiggal, karena belum ada ojek online dan transaksi online lainnya. Mereka suka membayar dengan uang  cash.

Di Zanzibar ojeknya masih offline. Uniknya, ojek motor tapi ada payungnya. Ojek seperti ini belum ada di Indonesia. Untuk mobil disini juga umurnya yang sudah 20 tahun. Tidak ada mobil keluaran baru seperti yang ada di Indonesia.

Penggunaan gadget disana juga masih tertinggal dari Indonesia. Akan stabil jika menggunakan wifi. Tapi akan sulit mendapat sinyal yang stabil jika menggunakan GSM biasa. digeser sedikit hilang.

Ekonomi

Sumber APBN terbesar disana adalah dari pariwisata. Namun karena Covid-19 yang sedang terjadi, pengunjung wisata sedikit menurun dari biasanya. Pihak setempat tidak mempermasalahkan jika ada turis yang datang hanya saja dari Negara lain yang mengurangi jam penerbangan. Meski begitu masih ramai tourist yang berdatangan menggunakan jet pribadi dan selalu full didalamnya berisi pengunjung. resort-resort yang selalu ramai dikunjungi oleh tourist-tourist luar negeri (Rusia, Polandia dan Italia)

Mayoritas warga disana bekerja sebagai petani rempah. Hidup dalam kesederhanaan dan penuh kebebasan. Ada juga yang bekerja sebagai tour guide, penjual suvenir  dan sebagainya. Zanzibar adalah Negara ke-tiga penghasil cengkeh terbanyak dunia. Seluruh cengkeh yang dihasilkan semua dikontrol oleh pemerintah karena cengkeh adalah penghasilan utama di Zanzibar. Warga hanya bisa menyuling daun cengkehnya saja.

Indesso adalah Perusahaan aroma yang sudah ekspansi ke Amerika.Salah satu alasan Fery mau menjadi investor disana adalah,  petani harus menjadi orang yang bisa ekspor Jangan hanya perusahaan asing.

Kekuatan dari Indesso bukan di minyak mentahnya tapi hasil dari fraksinasinya (turunanya). Salah satu contohnya adalah Counterpaint. Pengobatan sakit disana juga banyak yang menggunakan minyak cengkeh yang original. Bahkan dijadikan obat utama dalam P3K.

Covid-19

Saat ini, Zanzibar bebas covid-19,  jadi tidak ada yang menggunakan masker atau pun istilah PPKM atau lockdown. Semua berjalan normal seperti hari-hari biasa.  Bahkan ada konser besar yang diadakan di bulan Februari lalu. Hanya satu bulan penanganan Covid-19 setelah itu semua berjalan normal. Ada yang terkena covid tapi belum tentu itu benar-benar covid karena tidak ada tes yang akurat sebagai pembuktian.

Saat dibandara memang semua pakai masker. Tapi setelah keluar bandara dan menuju Zanzibar boleh melepas masker dan tidak menggunakanya. Bisa jadi, Zanzibar bebas Covid-19 karena ucapan warga adalah doa.

Pendidikan

Pendidikan disana semua berjalan normal. Banyak madrasah-madrasah, hanya saja kondisi yang memprihatinkan. Perlu perhatian khusus dari pemerintahnya khususnya bagian insfrastruktur.

Belum banyak anak yang disana yang bisa kuliah keluar negeri. Kecuali memang orang kaya yang memiliki lima hotel. Istilahnya crazy rich Tanzania.

Kontributor : Evi Yulianti (Anggota Komunitas Belajar Menulis-Kombis)

Categories: Uncategorized

There are 2 comments

Post Your Thoughts