Keliling ke Beijing: Muslim Mudah Dikenali dari Kopiahnya.

Pejuang Subuh Pondok Indah (PSPI) menggelar kegiatan keliling dunia pada Ahad (25/7/2021) ke Beijing, China, yang dipandu oleh Arief Hartawan sebagai Ka. Perwakilan bank Indonesia di Beijing dan Irfan Ilmie Ka. LKBN Antara Biro Beijing. Kegiatan ini juga dihadiri oleh seluruh jamaah dari dalam dan luar negeri.

Menurut Arief, toleransi beragama di Beijing sangat baik. “Disini sangat toleransinya. Saling menghormati antar pemeluk agama. Namun, ketika disini, kita tidak pernah mendengar adzan. Mikrofon hanya terdengar di area masjid saja. Di Beijing, siangnya panjang dan malamnya pendek. Baru tidur sebentar jam 3 pagi sudah Subuh. Jam 8 kurang baru Maghrib. Sholat rawatib agak sepi, yang ramai sholat Idul Fitri dan Idul Adha,” ungkapnya.

“2 persen penduduknya muslim dari 1.3 milyar penduduk. Tersebar di China bagian Barat menyebar ke arah Timur. Di daerah Sichaun, Xian, Uyghur penduduk muslim cukup banyak. Jika kita perhatikan, kopiah orang-orang muslim di Shanghai, Beijing berbeda-beda. Saya pernah pakai kopiah hitam ala Indonesia, mereka liat dan katanya bagus,” lanjut Arief.

“Kopiah orang-orang Uyghur bentuknya seperti besek, disebutnya Dopa. Jilbab yang dipakai muslimah pada umumnya sama seperti di Indonesia. Yang unik, ketika saya sholat di Tiongkok, posisi hanya boleh di depan dan belakang, sebab posisi tengah tempat para imam. Di sini, muslim mudah dikenali dengan kopiah putihnya. Di Masjid Nujiye dan sekitarnya banyak yang berjualan sapi. Pedagang yang memakai jubah putih pertanda itu makanan halal yang dijual,” sambung Arief.

“Xinjiang adalah daerah setingkat propinsi. Disana ada etnis khusus/minoritas namanya ughyur. Wilayah 1.6 persegi. Luas tapi penduduknya sedikit. Investasi 16.2 persen . 240 miliar gedung kesenian. Terkenal dengan kuliner halalnya dan dari Kansu. Bertetangga dengan Hinjiang. Ada suku yg lain sekitsr 65 suku,” jelas Arif ketika menerangkan muslim di Beijing.

Arief menambahkan, bahwa China bukan negara agama. “China itu ideologi partai komunis. Tidak ada yang mengalahkannya. Pemerintah punya tangan besi. Semua tempat beribadah di tempat yg ditentukkan. Gak boleh sembarangan. Kebutuhan fasilitas ibadah di tanggung dan digaji oleh pemerintah,” ungkap Arief.  

Menurut Arief, Islam datang dari Selatan, Xianchu. “Sa’ad Abi Waqash datang ke Xianchu berdagang. Dekat dengan Hongkong. Saad membangun mercusuar di sungai mutiara. Masyarakat China meyakini makam Sa’ad di Xianchu,” lanjutnya.

Masjid di Beijing

Masih penuturan Arief, bahwa masjid di Beijing mempunyai bentuk yang khas. “Ada masjid 1000 tahun lebih, bahannya dari kayu semua. Warna hijau dan merah lebih dominan. Arsitekturnya sangat bagus. Dikenal dengan logo Yin dan Yan, simbol keseimbangan kehidupan. Di komplek masjid ada koperasi, ada rukyat, dan orang-orang yang berjualan. Sering dibedakan antar masjid laki-laki dan perempuan. Jadi jangan sampai salah masuk,” ujarnya.

Kawasan Nujiye paling banyak muslimnya, kanan kiri banyak orang berjualan makanan halal. Makan mie dengan daging itu banyak di sini yang berjualan. Ada tulisan halal, namun dihilangkan oleh pemerintah, namun mudah dikenal karakteristiknya. Alam dan pegunungan di Tiongkok sangat menakjubkan, ada juga badai pasirnya,” kata Arief.

Penanganan Covid-19

Arief mengatakan, penanganan Covid-19 sangat ketat dan disiplin. “Tidak ada toleransi bagi yang melanggar prokes. Disini juga menggunakan aplikasi yang bisa menandakan zona merah dan hijau. Jika kita dari zona merah dan kembali ke zona hijau, maka harus diisolasi. Jika di zona merah akan mudah terdeteksi, apakah dia terjangkit atau tidak. Jika ada yang bertugas ke Beijing, ia harus ke kota kecil dulu menjalani proses isolasi 28 hari” terangnya.

“Ada dua kasus melanggar prokes hingga dihukum mati. Walaupun terkait kasus pembunuhan, tapi juga mereka kena undang-undang prokes. Pemerintah tidak main-main. Mereka sudah investasi untuk penanganan sekitar 3 triliun. Jika aturan ini dilanggar, akan diberi sanksi tegas. Wuhan bisa berhasil hingga tidak ada kasus sama sekali, kalaupun ada, itu daerah pemukiman,” ungkap Arief.

“Di Wuhan lackdown selama 76 hari. Semua tempat ibadah di tutup, walaupun bukan instruksi dari pusat, tiap daerah semua ditutup. Saat ada imlek. Semua panggung di tutup. Semua tempat ibadah dan tempat yg ramai ditutup. Sekarang sudah bisa kembali berkumpul. Naik bus sudah mulai berdesak-desakan. Jika ada kasus dalam suatu daerah, konsekuensi pemecatan,” sambung Irfan Imie, seorang wartawan yang bertugas di Beijing.

Ekonomi

Arief juga menjelaskan, bagaimana China memabngun dengan cepat. “China melakukan restorasi dengan cepat. Membangun rumah sakit bisa sampai tiga hari. Perkembangan ekonomi 6 persen bahkan bisa 8 persen. China tumbuh mengandalkan investasi, bisa bangun gedung, jalan, bandara yang sangat besar. Peran pemerintah betul-betul sebagai agen of development,” ujar Arief.

“Pandemi saat ini dimanfaatkan untuk jualan. Vaksin, masker, oksigen, APD, dan alat-alat kesehatan lainnya. Negara lain terseok, China sudah bergerak hal lain. Di sini (China) jika mau bangun apapun  tidak ada pembebasan lahan, mau bangun apa saja pemerintah bisa,” sambung Irfan.

Kontirbutor : Deni Darmawan

Categories: Berita Dunia

Post Your Thoughts