Laos, Negara Komunis yang Mendukung Kegiatan Keagamaan

Bincang-bincang dalam program silaturahmi online yang digelar oleh Komunitas Pejuang Subuh Pondok Indah (PSPI) pada Minggu (4/7/2021) menghadirkan Duta Besar RI untuk Laos, Dr. Pratito Soeharyo. Kegiatan ini bukan saja diikuti oleh jamaah dari Indonesia saja, tapi juga dari berbagai belahan dunia ikut bergabung.

Dalam pemaparannya, Pratito mengatakan bahwa Laos adalah negeri sejuta gajah. Hal ini tidak lepas dari sejarah. Saat zaman kerajaan Lan Xan, Laos mempunyai padang rumput dan hutan yang luas yang dihuni oleh gajah-gajah liar. Gajah juga digunakan sebagai alat transportasi keluarga kerajaan dan masyarakat. Gajah banyak dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan manusia.

Laos juga sebagai negara komunis. Kendati demikian, Laos sangat menghormati penganut agama lain dan mendukung penyelenggaran kegiatan agama lainnya. 90 persen warga Laos menganut agama Budha. Ada beberapa gereja di Laos dan dua masjid yaitu masjid Azaahar dan masjid Jamia.

Laos Kini

Laos telah melebarkan sayap, menjalin hubungan diplomati dengan 136 negara dan mempunyai perwakilan di 35 negara. Bahkan, pemerintah Laos mencanangkan visinya untuk mengubah Laos dari negara yang tidak mempunyai perbatasan laut di Asia Tenggara (landlocked country) menjadi land-linked country. Laos juga menjadi negara ASEAN pada tanggal 23 Juli 1997. Sedangkan penduduknya berjumlah 7 juta jiwa.

Dari sisi ekonomi, Laos termasuk negara yang mengalami pertumbuhan cukup signifikan.  Pada tahun1986, Laos meluncurkan kebijakan New Economic Mechanism (NEM) hingga membawa Laos memasuki periode konsolidasi nasional dan pembangun yang cepat.

Laos merupakan negara Agraris. Hasil tanam, berkebun oleh petani cukup melimpah. Selama perang Indochina Kedua, lebih dari 2 juta ton bom dijatuhkan di Laos.

Sejak tahun 2006, KBRI Vientiane telah memberikan 141 beasiswa kepada pemuda Laos. Bagi Indonesia, Laos merupakan pasar potensial non-tradisional bagi Indonesia. Posisi Laos berada di tengah kawasan Indochina. Warga India dan pakistan banyak di Laos, Mereka berdagang pakaian dan tekstil.

Di Laos juga ada pembelajaran bahasa Indonesia. Waktu di Laos dan Indonesia juga sama. Pada 17 Oktober 2019 sudah berlaku juga undang-undang jaminan produk halal nomor 33 (2014), bahwa sertifikat halal itu dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal dari Kementerian Agama RI. Jadi yang mengeluarkan bukan MUI lagi. Berdirinya Wonderful Indonesia Center di Laos memasarkan produk-produk Indonesia.

Olah raga Golf di Laos bukan permainan mahal seperti di Indonesia. Golf itu olah biasa dan murah untuk warga. Golf disediakan lapangan khusus untuk pegawai setempat dan pada hari-hari tertentu bisa main golf dengan harga yang super spesial murah. Siapapun bisa main olag raga ini.

Loas juga minim tindakan kriminal. Hal ini dikarenakan ajaran Buddha yang mengajarkan hukum karma, sehingga membuat warga Laos takut hal buruk akan terjadi pada dirinya. Justru tindak kriminal sering dilakukan oleh warga negara lain yang ada di Laos.

Kini, Los juga sedang membangun kereta yang menghubungan hingga ke Eropa. Dari Laos, kita bisa ke Malaysia, Singapura, Beijing, Rusia dan Jerman. Kita akan merasakan perjalanan yang indah dari berbagai negara ketika menggunakan kereta.

Pariwisata di Laos juga sangat menarik.  Ada Budha Park yaitu taman yang penuh dengan patung Buddha dan Hindu. Ada Pha That Luang yaitu stupa suci dan emas. Vat that Khao yaitu parung Buddha tidur. Ada Patuxai yaitu gerbang ala Paris di Laos. Phou Khao Khouay National Park yaitu taman nasional Vientiane. Kuang Si Falls yaitu air terjun berwarna turquise dan lain sebagainya.

Laos Menangani Covid-19.

Laos sangat ketat dalam penanganan Covid-19. Warga yang  meninggal karena Covid hanya 3 orang. Total kasus 2, 176 yang terkena Covid. Pemerintah tegas melakukan lockdown. Ketika penyebaran semakin masif, warga Laos mengikuti semua aturan dan kebijakan dari pemerintah.

Saat keluar membeli kebutuhan pokok di toko, warganya tidak boleh masuk. Khawatir terkontaminasi dengan droplet. Mereka rela antri di garis dan menuggu. Pembeli hanya boleh memberikan daftar belanjaan saja dan pelayan akan mencarikannya.

Tempat ibadah juga di jaga ketat dan dibatasi. Saat sholat di masjid sholat berjarak dan semua pintu harus dibuka agar ada udara yang masuk. Begitu juga dengan tempat-tempat ibadah yang lain.

Kontirbutor : Deni Darmawan

Categories: Tour Online PSPI

There are 3 comments

  1. Saya sangat salut akan adanya hukum karma yang berlaku di Negara Laos, dan di taati seluruh warganya dan segala aturan ditaati,berhasil menangani covid-19.

    Dengan adanya tulisan Bapak Dedar.Sampai Saya berandai-andai,bila negara tercinta Indonesia ini seperti Negara Laos dalam menangani masalah dan warga juga taat akan aturan yang dibuat dari pemerintah untuk warga dan yang terpenting hasil akhir,negara bisa berhasil sukses secara gemilang dalam menangani kasus terberat.

    Ya Allah Hamba ini hanya bisa berdoa dan berusaha .Semoga Indonesia bisa terbebas dari Covid-19 dan tidak ada lagi gelombang tsunami cofid19 yang kedua dan….

    Astaghfirullah,ampuni kami,ampuni Negeri ini dan Pemimpin Kami.

    Kami mendambakan seperti Negeri Laos yang sukses menyelesaikan permasalahan Negara dengan baik.

  2. http://An'an%20Sari%20Chasiana

    Thank you Mr. Ambassador Pratito Soeharyo, for the an excellent explanation, it opened our horizons about the communist state, apparently, It turns out Laos being the past picture of a communist country what is now highly tolerant in the field of religion and a respected member of the ASEAN

  3. http://Hendar%20Asmara

    Saya usul agar cara Laos menangani Covid & cara rakyat berbelanja, diceritakan oleh Dubes kpd Menlu, utk diteruskan kpd Presiden & Menteri terkait.

Post Your Thoughts