Warga Ekuador bernama Islam, Namun Belum Tentu Muslim

Ahad (21/3/2021) Duta Besar RI untuk Ekuador Agung Kurniadi menyampaikan segala aspek kehidupan di Ekuador dalam program tour online yang digelar oleh Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah (PS-MRPI) melalui virtual yang diikuti dari berbagai jamaah dari dalam dan luar negeri. Perbedaan waktu antara Ekuador dan Jakarta sekitar 12 jam.

Agung Kurniadi menyampaikan terkait kehidupan di Ekuador. “ Ekuador termasuk negara Amerika Latin. Negara yang mempunyai kandungan alam yang luar biasa dan mempunyai cadangan minyak. Quito adalah ibu kota Ekuador. Jumlah penduduk sekitar 270 miliar, mempunyai 300 etnis, 740 bahasa dan dialek, mempunyai 6 agama. Katolik Roma, Protestan, Islam, Hindu, Budha dan confucianism. Mayoritas Katolik Roma sekitar 75 persen. Masyarakat muslim sekitar 2000 orang atau sekitar 0.1 persen,” ungkap Agung.

Agung melanjutkan, di Ekuador ada beberapa masjid. “Ada masjid As-salam, di Kipo ada masjid Khalid bin Walid. Menurut pengalaman jamaah, pihak masjid memberikan no handphone untuk memastikan kebenaran info seputar keislaman. Seperti info produk-produk halal dan sebagainya. Jika ingin menyembelih langsung biasa beli daging dalam jumlah yang banyak. Untuk menjamin kehalalan dalam memotong. Siramin rohani di masjid menggunakan bahasa Spanyol. Khutbah dan memberi pengumuman menggunakan dua bahasa,  Inggris dan Spanyol,” ujarnya.

“Saat ini WNI di Ekuador berjumlah 62 keluarga staf KBRI, karyawan dari multi International cooperation, rohaniawan, pelaku usaha dan spouses,” tambahnya.

Salah satu staf KBRI di Quito mencerita pengalamannya ketika berada di Ekuador. “Pengalaman saya ketika merasakan suasana sholat di Ekudor sangat sepi dan sendiri. Jika orang-orang Indonesia yang perempuan memakai mukena tertutup rapat, tapi di Ekuador sangat berbeda,” terang Tri Novita saat mengenang kali pertama di Ekuador-Quito.

Begitu juga pengalaman dari R, Apriyanto, bahwa orang-orang Ekuador memandang muslim tidak negatif. “Tidak ada pandangan negatif terhadap muslim. Tidak ada diskriminasi dan perlakuan yang berbeda. Budaya Islam disini ada dimana-mana,” kata Apriyanto.

“yang unik, ada yang memakai nama Islam seperti Ismail, tapi tidak beragama Islam. Nama-nama Islam dan Arab lumayan banyak, tapi belum tentu ia muslim,” tambah Apriyanto yang juga KBRI di Quito, Ekuador.

Kontributor : Deni Darmawan

Categories: Tour Online PSPI

Post Your Thoughts