Walaupun Minoritas, Umat Islam di Peru Aktif Memperkenalkan Islam

Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah (PS-MRPI) kembali menggelar jalan-jalan secara virtual ke Peru bersama Duta Besar R.I untuk Peru dan Bolivia, Marina Estella Anwar Bey serta saling sapa dengan warga muslimnya di Peru pada Minggu (7/3/2021). Kegiatan ini diikuti oleh WNI dari berbagai belahan negara.

Marina menuturkan mengenai Demografi Peru. “Ada 15.5 juta laki-laki dan 15.5 juta perempuan di Peru. 41 persen tingga di Costa, 36 persen di Sierra (pegunungan Andes), 12 persen di Selva (hutan Amazon), sisanya di luar negeri (US, Canada, Eropa). 66 persen usia produktif (15-64 tahun). Peru dari berbagai ras atau suku. 60 persen ras campuran, penduduk asli 25 persen suku Quecha dan Ayamara (Amerindian), Sebanyak 5 persen kulit putih dari Spanyol, Jerman, Kroasia dan Poland (Caucasian), kulit hitam 4 persen, China Peru (Tussan) 1.5 persen dan lainya dari Palestina, Lebanon dan sebagainya,” tutur Marina Dubes RI untuk Peru dan Bolivia.

“Hubungan bilateral antara RI dan Peru sejak tahun 12 Agustus 1975. Waktu itu, Kedubes Peru di Jakarta di buka 1 November 1992, sedangkan KBRI Lima di buka pada 20 Februari 2002. RI dan Peru aktif di Fora International seperti Non-Blok, APEC dan WTO. Ada 9 bilateral treaties, total perdagangan 235 juta USD pada tahun 2019, dan 218 juta USD pada tahun 2020. Surplus perdagangan untuk Indonesia sebanyak 181 juta USD pada tahun 2019. Indonesia banyak mengekspor otomotif, tekstil, alaks kaki, makanan ringan dan lainnya,” ungkap Marina.

“Orang-orang Peru sama dengan Indonesia, makanan pokoknya nasi dan banyak mengandung karbohidrat. Orang Peru besar-besar. Sayur mayur banyak ditemukan di Peru. Ekonomi banyak dikuasai oleh orang berkulit putih,” lanjut Marina.

Peru juga mempunyai tempat wisata. “Peru mempunyai leisure tourism di Machu Picchu, Lima, Arequipa, dan Cusco. Wisata adventurer seperti trekking di Ande dan Amazon. Ecotourism seperti gurun pasir Ica, Nazca, Aamzon river cruise, danau titicaca,” terangnya.

Islam di Peru  

Marina melanjutkan mengenai Islam di Peru. “Umat Islam sekitar 5000 – 7000 orang dari 31 juta penduduk. Islam ada di Peru ketika ditemukan catatan muslim pada tahun 1560 di mana ada sekelompok orang Spanyol yang dihukum mati karena beragama Islam di Cusco, kota terbesar di Peru pada masanya,” kata Marina.

“Pada era itu Spanyol relatif baru mengalahkan kekhalifan di Cordova dan menerapkan hukuman yang keras bagi muslim termasuk koloni Spanyol di Amerika Latin, hingga pada akhirnya tidak ada muslim tersisa di Peru. Setelah Peru merdeka dari Spanyol mulai terdapat kebebasan beragama, dan Islam muncul lagi di Peru mulai tahun 1940-an khususnya sejak perang Arab-Israel di man orang Palestina, Lebanon dan Suriah migrasi ke Peru,” terangnya.

Marina melanjutkan bahwa kebebasan beragama dijamin di Peru. “Warga peru diberikan kebebasan dalam beragama. Masyarakat cenderung religius tapi tidak fanatik. Peru sangat terbuka dan toleran. Di Peru mayoritas agama Katolik sebesar 76 persen, Protestan sebesar 18.5 persen, tidak beragama sekitar 5 persen, Budha sekitar 50.000 orang, Baha’i sekitar 40.000 orang, Yahudi dan kepercayaan lokal lainnya. Unsur sinkretisme Katolik dan agama lokal masih kuat. Misalnya, dulu mayoritas Peru adalah penyembah matahari, gambar Yesus, sehingga di Peru masih banyak memakai background matahari sebagai representasi Yesus anak Tuhan,” ungkap Marina.

“Ada dua organisasi Islam yang aktif di Peru. Pertama, Asociation Islamica del Peru yang bermarkas di Magdalena, Lima. Komunitas Islam di Peru bermarkas di Brena, Lima. Masjid dan mushola jumlahnya ada 8 di kota Lima, masjid didirikan oleh komunitas Palestina di wilayah Magdalena pada tahun 1990, San Borja dan Brena. Di kota Tacna tahun 2000 didirikan komunitas Pakistan, di kota Piura oleh komunitas Turki, du Chiclayo, Cusco dan Iquitos” lanjutnya.

“Ada yang menarik di Peru, jika ada yang mualaf, mereka tetap memakai nama aslinya. Jika ada yang berjilbab, mereka akan mengucapkan assalamu’alaikum . Walaupun umat Islam minoritas, tapi tetap aktif. Ketika Ramadhan, kami banyak mengadakan acara buka puasa bersama, taraweh, khataman quran, bahkan yang non muslim ikut buka puasa bersama. Selama pandemi, kami juga aktif mengadakan kegiatan sosial. Umat Islam di Peru juga aktif berdakwah, memperkenalkan Islam,” terang Rangga Yudha salah satu KBRI di Peru.

Rangga menuturkan bahwa masjid di Peru mengikuti nama yang ada dikotanya. “Nama masjid Magdalena itu karena mengikuti nama kota/distrik posisi ada di Magdalena. Jadi dikenal dengan masjid Magdalena. Jamaah disana mengikuti mahzab Hanafi. Pengajar atau ustadz biasanya didatangkan dari Mesir, Al-Azhar, yang bisa berbahasa Spanyol dan bahan ajar sudah disiapkan,” tutur Rangga.

Kontributor : Deni Darmawan

Categories: Tour Online PSPI

Post Your Thoughts