Masjid Seperti Barang Langka di Filipina

Pejuang Subuh Pondok Indah (PSPI) kembali menggelar tour virtual ke Filipina pada Minggu (28/2/2021) bersama perwakilan KBRI di Manila Agus Buana, Mustofa Mardjuki, Muhammad Ramdhan dan  Tunggul W Prabowo. Jamaah yang mengikuti jalan-jalan virtual ini tidak hanya dalam negeri, tapi juga dari berbagai jamaah yang tinggal diberbagai negara.

Mustofa Mardjuki yang jug sebagai ustadz di Filipina menuturkan, kebebasan dalam memeluk agama dan perbedaan agama dalam suatu keluarga itu biasa. “Perbedaan agama dalam satu keluarga di Philippines itu adalah hal biasa. Tidak ada masalah. Walaupun mayoritas Katolik, tapi pertumbuhan agama Islam sangat dinamis. Tidak hanya 10 persen, tapi  riil bisa lebih dari 20 persen, sebab setiap harinya ada yang masuk ke agama Islam, dan itu ada yang belum tercatat,” kata Mustofa yang sering menggelar pengajian di Manila.

“Setelah mereka masuk agama Islam, terkadang mereka menyembunyikan identitas agamanya. Mereka masuk Islam karena mempertanyakan konsep trinitas yang masih menjadi perdebatan. Penyebaran dakwah di sini juga tergolong berani dan terang-terangan. Banyak juga warga Filipina yang berinteraksi dengan orang Timur Tengah yang pada akhirnya pindah ke Islam. Ada satu komplek yang banyak lulusan mahasiswa dari Timur Tengah, semua dibiayai oleh Saudi,” lanjutnya.

Ust. Mustofa Mardjuki bersama keluarga sambil jalan-jalan di pagi hari live dari Manila

Mustofa melanjutkan, sebelum pandemi pengajian sering digelar di masjid. “Pengajian yang digelar sering dihadiri oleh orang Arab, warga Filipina, orang asing di Filipina dan warga Indonesia. Dubes Bangladesh juga sering hadir sholat Jum’at di masjid At-Takwa. Masjid At-Takwa dikelola oleh warga Indonesia. Masjid ini sangat terbuka. Jika kedutaan Arab Saudi dan Malaysia masjdinya ekslusif untuk jamaah mereka saja,” terang Mustofa sambil olah raga pagi bersama keluarga yang terlihat secara virtual.

“Dalam praktek ibadah, di sini menggunakan mahzab Syafi’i. Disini juga pada umumnya tidak ada komunitas muslim yang besar seperti di Indonesia. Presiden Filipina juga ramah kepada warga muslim. Ada penetapan libur nasional pada idul fitri dan hari hijab nasional di Filipina,” kata Mustofa.

“Pendidikan di Filipina mengutamakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dan buku-buku yang semuanya berbahasa Inggris. Karena pintar berbahasa Inggris, hal inilah yang menyebabkan warga Filipina mudah mencari pekerjaan ke luar negeri. Untuk bisa praktek selepas kuliah, mahasiswa harus mengikuti ujian nasional. Ada mahasiswa yang sudah lulus kuliah kedokteran, tapi ujian nasional sudah tiga kali gagal, maka belum bisa praktek,” ungkap Mustofa kembali.

Agus Buana live langsung di Manlia, Filipina.

Begitu juga hal yang disampaikan oleh Agus Buana.  Ia mengatakan bahwa masjid At-Takwa selain terbuka juga mendapat perhatian dari Dubes RI “Menjelang Ramadhan masjid At-Takwa sangat terbuka. Jamaah sekitar 120 orang. Kegiatanya di masjid ini juga murni dari infak dan sedekah warga Indonesia atau warga asing. Almarhum Dubes RI untuk Filipina Bapak Sinyo Harry Sarundajang walaupun non muslim, semasa menjabat beliau pernah menyumbang 20 unit kipas angin untuk masjid saat Ramadhan dan menyumbang karpet dengan kualitas nomor satu. Beliau pernah menambahkan transportasi Ustadz yang menjadi narasumber di masjid At-Takwa dengan uang pribadinya. Pernah suatu ketika kami juga buka puasa bersama dan taraweh di rumah Pak Dubes” ujar Agus.

“Saat terjadi ledakan bom di Surabaya tahun 2019, Pemerintah Indonesia untuk menghentikan sementara kegiatan ibadah di masjid. Tapi, beliau bilang untuk melanjutkan, asal ada evaluasi day by day. Ketika ada jamaah tabligh asal WNI yang meninggal, beliau juga yang membantu proses pemulangnnya ke Indonesia. Selama hidup, Pak Dubes sering membantu, support, kegiatan di masjid. Sulit menemukan duta besar seperti ini,” ungkap Agus.

Agus melanjutkan, pemerintah Filipina sangat mengapresiasi muslim Indonesia dari pada negara muslim lainnya. “Pemerintah Filipina memandang Islam sudah sangat bagus. Secara bilateral hubungan Indonesia dan Filipina sangat baik dan saling menghormati. Filipina juga banyak belajar dari Indonesia bagaimana menyelesaikan konflik di Aceh. Jika Saparatisme muncul di Filipina karena ketidakpuasaan dan miss manajamen. Hal ini terjadi di Filipina Selatan. Ada fanatik geraja disini yang memandang Islam itu bahaya. Pandangan itu pun diperbaiki oleh pemerintah,” lanjut Agus.

“Pemerintah Filipina juga sangat menjamin tenaga kerjanya di luar negeri. Pernah di Kuwait tidak ada jaminan perlindungan warga Filipina disana, maka Dubes Filipina mengambil tindakan tegas. Saya juga sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada Dr. Naheeda seorang istri dari Ustad Mustofa Matdjuki dan juga seorang dokter internist muslim terkemuka di Filipina. Beliau sangat membantu kami secara gratis. Dan selalu datang jika dipanggil untuk memeriksa kesehatan Pak Dubes,” tambah Agus

Muhammad Ramadhan turut menambahkan mengenai aktivitasnya di Filipina. “Jika kita bernama Islam, seperti saya ada nama Muhammad maka akan diberikan makanan yang halal. Selama saya mahasiswa dan bekerja di Microsoft, saya dan mahasiswa lainnya menjadi pengurus masjid, meramaikan kegiatan masjid,” jelas Muhammad yang sering di sapa Rahmat.

“Orang-orang Filipina sangat ramah, friendly, suka menyapa dan mengobrol. Jika terjadi kecelakaan atau tabrakan, mereka tidak ribut, tapi menunggu dengan tenang hingga pihak polisi datang,” lanjut Muhammad seorang Business Processing Office Filipina        

“Orang muslim yang datang ke Filipina akan sulit menemukan masjid. Jika di Indonesia kita menemui banyak masjid, tapi jika di Filipina menemukan satu masjid senangnya luar biasa. Bahkan saya pernah salat di viting room. Setiap Jumat saya memilih libur agar bisa salat Jumat. Jika ada warga Indonesia yang datang ke Manila, insyaAllah saya akan menemani,” ujar Muhammad.

Tunggul W Prabowo live dari Manila, Filipina

Tunggul W Prabowo juga ikut menambahkan. Selama ia tinggal di Manila, area Makati dan keliling Bonaficio Global City. “Ketika berkunjung kesini begitu banyak multi etnis, multi kultural dan beragam tanaman. Bonaficio Global City (BGC) kota yang bersih dan modern. Disini juga ada taman yang bersih. Namun kita harus hati-hati, banyak warga Filipina yang membawa anjing saat jalan-jalan. Tapi tugas kebersihan akan sigap untuk membersihkan jika ada kotoran anjing dan lainnya. Seratus bangunan tinggi berjejer. Tapi tidak ada masjid disini, adanya di Mal tapi kurang representartif,” tutur Tunggul.

“Jika mau ke Filipina ada pantai yang sangat bersih dan kenal 7300 pulau. Pulau-pulau disini dijadikan wisata untuk menarik wisata asing. Kita akan sulit menemukan makanan yang halal, sebab disini belum berkembang wisata halal dan ini menjadi tantangan tersendiri. Makan disini harus hati-hati sebab ada menu daging babi, minuman alkohol.  Namun, kita juga akan menemukan banyak restoran Turki yang bernama Suwarman. Jika mau wisata saat pandemi, maka harus di karantina di hotel selama tujuh hari dan itu biaya sendiri juga mahal. Tidak efisien jika saat ini ke Filipina,” tutup Tunggul yang bekerja di Kalbe Farma di Filipina.

Kontributor : Deni Darmawan

Categories: Tour Online PSPI

Post Your Thoughts