Warga Sudan Kerap Melakukan Begal Ramadhan Kepada WNI

Duta Besar RI untuk Sudan Rossalis R. Adenan

Pejuang Subuh Pondok Indah (PSPI) kembali menggelar tour online ke belahan negara. Kali ini jamaah di ajak jalan-jalan online ke Sudan bersama Duta Besar RI Rossalin R. Adenan pada Minggu (21/2/2021). Tour online ini tidak hanya diikuti oleh jamaah dari Indonesia, tapi dari jamaah berbagai negara.

Rossalis yang bermukim di Khartoum ibu kota Sudan mengatakan, Sudan merupakan negara Liga Arab dan anggota OKI. “Sudan saat ini sudah membaik. Stabilitas politik semakin baik dan berdampak pada pemulihan ekonomi. Semua dilakukan dengan berdialog. Perdamaian juga terjadi di Sudan Selatan. Saya sudah mengunjungi 6 wilayah di Sudan, selebihnya belum karena masih konflik,” ungkap Rossalis live dari Khartoum.

Piramid di Sudan lebih banyak daripada di Mesir

“Sudan  sudah pernah terpuruk dua dekade pada masa Umar Bashir yang mendukung pro Amerika. 2 tahun lalu Sudan juga sudah dihapuskan dari daftar teroris Amerika. Saat ini juga hubungan semakin meningkat dengan Indonesia. Sektor pertanian, peternakan dan pertambangan semakin baik. Sudan pengekspor kopi Arabic, kacang tanah, dan lainnya. Sedangkan Indonesia banyak mengeskpor ke Sudan berupa spare part kendaraan, minyak pelumas dan sebagainya,” lanjut Rossalis.

Rossalis melanjutkan, mengenai sosial budaya di Sudan. “Keragaman budaya dan etnis di Sudan sangat banyak. Sekitar 600 etnis dan 400 bahasa lokal. Bahasa arab menjadi bahasa utama, kedua bahasa Inggris. Pejabat-pejabatnya mahir berbahasa Inggris karena dulu pernah dijajah oleh Inggris. Ibu kota adalah Khortoum, berada pada pertemuan dua sungai nil biru dan sungai nil putih. Indonesia sebagai negara yang mengakui Sudan menjadi negara merdeka walaupun saat itu tahun 1965 belum merdeka, makanya Sudan memandang orang-orang Indonesia sangat positif sekali,” ujarnya.

Warga Sudan menganut paham sunni dalam ritualnya

Rossalis menambahkan terkait aliran keagamaan di Sudan. “Masyarakat Sudan menganut paham sunni moderat dalam ritual. Pengawasan pemerintah terhadap aliran sesat sangat ketat. Ada adat di Sudan yang disebut “Begal Ramadhan” yang menghadang mobil, motor atau orang-orang di kereta untuk buka puasa bersama di pinggir jalan. Mahasiswa Indonesia sangat senang dengan adat ini sebab makan gratis. Begitu juga dengan TNI dan POLRI yang bertugas di Sudan, mereka mengatakan best batallion Indonesia. TNI dan POLRI sangat membantu pelayanan masyarakat di Sudan, membantu mendirikan sekolah, penjernihan air yang sangat dibutuhkan masyarakat lokal. TNI dan POLRI sangat di apresiasi di Sudan,” katanya.

Rossalis juga menceritakan tentang pariwisata di Sudan. “Raja terdahulu dipengaruhi budaya mesir, kemudian mendirikan piramid. Banyak ditemukan situs-situs di Sudan dan jumlah piramid lebih banyak di Sudan daripada di mesir. Tercatat sekitar 255 piramid, sedangkan di Mesir sekitar 183 piramid. Hal inilah yang mendasari peningkatan pariwisata di Sudan. Banyak jamaah umroh mengunjungi tempat sejarah Islam di Turki, Jordan, kenapa tidak bisa datang ke Sudan, sebab banyak situs yang dijadikan obyek wisata,” terangnya.

Situs-situs di Sudan

“12 tahun lalu Sudan imagenya daerah konflik. Makanya, Indonesia mengirim pasukan perdamaian. Ada suku yang keturunan Arab yang sifatnya berpindah-pindah (nomaden) dengan membawa hewan ternak dengan jumlah yang banyak, imigrasi masuk ke wilayah suku lain yang sudah menetap sebelumnya. Sehingga terjadi konflik, sering terjadi bunyi senjata pada malam hari. Sedangkan suku setempat mempunyai senjata untuk berjaga-jaga. Jika suku lain masuk maka akan terjadi tembak-menembak,” ungkap Rossalis.

Rossalis juga menjelaskan tentang kuliner di Sudan. “Makanan disini familiar dengan budaya Timur Tengah. Ada sup surbah yang rasa rempahnya sangat enak dan terasa sekali. Ada sedikit kesamaan dengan sup di Turki seperti salad dengan irisan paprika, bawang dan jeruk nipis, ditaburi seledri dan mayones. Ada juga ayam bakar fira maswey yang dicampur dengan rempah-rempah. Ada nasi biryani yang dicampur dengan jeruk nipis dan tomat. Makanan-makanan tersebut banyak ditemui di restoran Sudan,” jelasnya.

Kontributor : Deni Darmawan

Pemberian bantuan oleh Dubes RI Khartoum kepada masyarakat lokal merupakan kegiatan POLRI
Categories: Tour Online PSPI

Post Your Thoughts