Islam Minoritas di Ethiopia, Namun Toleransi Tinggi

Minggu (10/1/2021) Komunitas Pejuang Subuh Pondok Indah (PSPI) Masjid Raya Pondok Indah kembali menggelar tour online rutin ke beberapa negara. Tour online kali ini, PSPI akan ngobrol bareng bersama Duta Besar (Dubes) RI untuk  Ethopia, Djibouti dan Uni Afrika Al-Busyra Basnur beserta stafnya.

Al-Busyra melalui video rekamannya, menyampaikan mengenai negara dan Islam di Ethiopia. Sedangkan dialog secara virtual diwakili oleh dua staf KBRI, Arief dan Affan yang akan menjawab pertanyaan jamaah langsung dari Addis Ababa, Ethopia.

Perbedaan waktu dari Jakarta dan Ethopia sekitar 4 jam. Jika di Jakarta jam 07.00, maka di Ethopia sekitar jam 03.00 pagi. Suhu udara pagi bisa mencapai 5-9 derajat, siang hari sekitar 23 derajat, sedangkan ketinggian diatas  permukaan laut sekitar 2300-2800 DPL.

Suasana pagi hari di Ethopia tidak berbeda jauh dengan Jakarta. Pagi hari suara adzan saling menggema, sebab masjid cukup banyak. Jadi, Shubuh di Ethopia sama seperti di Indonesia, kita akan terbangun dengar suara yang adzan yang saling bersautan. Namun, Ethiopia bukan negara Islam, sebab penganut agama Islam hanya 33 persen. Ethiopia bukan lagi negara miskin, ternyata dalam waktu 10 tahun menjelma menjadi negara modern. Hal ini dibuktikan dengan adanya kantor Uni Afrika di Ethiopia.

Tentang Ethopia

Menurut pemaparan Dubes RI untuk Ethopia Al-Busyra Basnur, bahwa Ethiopia menjadi negara land locked (negara tidak mempunyai laut), Ethiopia merupakan populasi kedua terbesar di Afrika, menjadi negara the most religious people in the world (kebebasan dalam memeluk agama), memiliki kalender dan waktu sendiri, menjadi satu-satunya negara Afrika yang tidak pernah dijajah, menjadi negara sumber air sungai Nil dan negeri penghasil kopi.

Ethiopia menempati posisi ke-5 terbesar dalam hal jumlah penduduk mulsim di Afrika sekitar 37 juta, Negeria 108 juta, mesir 93 juta, Aljazair 42 juta dan Sudan 41 juta. Ethopia sebagai the most religious country karena memberi kebebasan kepada warganya untuk beragama sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Semua pemeluk agama hidup berdampingan dengan damai, toleransi beragama sangat tinggi. 

Ethiopia mempunyai luas wilayah 1.104.300 km2, jumlah penduduk sekitar 112 juta jiwa, mempunyai sekitar 10 suku, suku terbanyak yaitu Oromo 34.4 persen, Amhara 27 persen, Sidama 9 persen, Somali 6.3 persen dan sebagainya. Sedangkan beragama Kristen Ortodox 43.5 persen muslim 33, 9 persen, protestan 18.6 persen, Tradisinal 2.6 persen, Katalik 0.7 persen dan Yahudi 1 persen.

Sejak tahun 1961 Indonesia sudah membuka hubungan diplomatik dengan Ethiopia. Hubungan bilateral itu terjalin dengan sangat baik dalam bidang keagamaan, interfaith dialogue, pelatihan manajemen haji, penawaran beasiswa dari Indonesia untuk pelajar muslim di Ethiopia. Penandatanganan nota kesepahaman mengenai forum konsultasi bilateral antar menlu RI Retno Marsudi di Ethiopia pada bulan Januari 2015 dan forum konsultasi bilateral RI-Ethopia 1, pada 9 Aprila 2018 di Bali.

Ethiopia juga punya produk unggulan seperti kopi, kedelai, kacang hijau, bunga, dan sebagainya. Ethiopia mempunyai rasa kopi arabica yang berbeda. Soal rasa bisa disandingkan dengan rasa kopi Indonesia. Karena Ethopia mempunyai udara dingin, akan banyak terlihat kedai kopi dan mereka pencinta kopi, harga murah juga sangat murah. 1 birr sekitar 400 rupiah, harga kopi sekitar 2 birr.   

Produk Indonesia cukup banyak di Ethiopia. Ethiopia juga mempunyai pasar terbuka terbesar di Afrika. Investasi perusahaan Indonesia pun cukup banyak di Ethiopia.

Pada Maret 2019, ada 190 orang Indonesia di Ethiopia. 40 orang yang bekerja menjadi staf KBRI di Addis Ababa. 150 orang bermukin di Kota Hawasa, sebelah Selatan Addis Ababa. Saat ini, Ethiopia sudah cukup maju. Anak-anak Ethopia banyak yang sekolah ke luar negeri seperti di Amerika, Inggris dan negara-negara Eropa. Bahasa Inggris menjadi kata penghantar sekolah Ethiopia.

Staf KBRI, Arief menjawab pertanyaan jamaah seputar Ethiopia

Islam di Ethopia

Dalam sejarah Islam, Nabi SAW beserta umat Islam hijrah ke kota Yastrib yang kini dikenal dengan kota Madinah. Peristiwa ini menjadi titik awal perkembangan dan peradaban Islam. Dari peristiwa hijrah dari Mekkah ke Madinah, hingga akhirnya Islam menyebar ke seluruh dunia hingga kini.

Islam masuk ke Ethiopia pada bulan Rajab tahun ketujuh sebelum hijriyah atau pada rahun 615 masehi. Masuknya Islam ke Ethiopia merupakan hijrah pertama atas perintah langsung Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya.

Namun dalam perkembangannya, aksi penolakan Islam dan berbagai tindakan diskriminasi terhadap umat muslim di Mekkah mendorong Nabi Muhammad SAW untuk memerintahkan umatnya hijrah ke Ethiopia yang dikenal dengan hijrah kedua sebanyak 83 orang muslim dan 10 orang muslimah yang dipimpin oleh Jafar bin Abu Thalib, sepupu Nabi Muhammad SAW dan sejumlah sahabat seperti Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Urtufah, Ustman bin Mazun dan Abu Musa.

Kelompok hijrah tersebut kemudian mendirikan sebuah masjid yang dikenal dengan masjid Negash/An-Najasyi sebagai masjid tertua di Afrika dan masih berdiri saat ini. Masjid ini juga terdapa makam para sahabat Nabi Muhammad SAW yang ikut serta pada perjalanan hijrah.

Islam terus mengalami perkembangan pada masa kerajaan Aksum atau yang dikenal Abysinia. Tercatat, pada abad ke-14 pernah berdiri 7 kerajaan Islam hingga bersatu dan menjadi Ethiopia saat ini. Salah satu peninggalan warisan budaya kerajaan Islam hingga kini yaitu kota Harar yang menjadi warisan budaya dunia dan kota suci Islam ke-4 oleh Unesco.

Kota Harar dikelilingi oleh benteng dan 5 pintu masuk utama. Didalamnya terdapat 82 masjid kuno diantaranya telah berdiri sejak abad ke-10. Umat Islam di Ethiopia banya terdapat di Somali (98.4 %), Afar (95.3 %) dan Aromia (47.5 %). Sedangkan di Ibu Kota Addis Ababa sendiri terdapat 16.2 persen penduduk beragama Islam.

Muslim Ethiopia beraliran ahlu sunnah wal jamaah (Sunni) dan mayoritas bermahzab Syafi’i (Sumber: The Ethiopian Islamic Affarais Supreme Council, 2019). Walaupun kristen ortodok menjadi agama paling banyak dianut, tapi mereka saling menghormati dengan pemeluk agama lainnya. Perempuan Kristen Ortodox bisa dikenali dengan memakai hijab berwarna putih, sedangkan muslimah memakai hijab berwarna-warni.

Kontributor : Deni Darmawan

There is one comment

  1. http://Fani%20Rahmawati

    Wahh bagus sekali pak. Banyak sekali ilmu yg saya dapat dari tulisan bapa ini. Saya jadi tau perkembangan agama islam di eriopia.

Post Your Thoughts