Kajian Sirah: Perniagaan dan Dakwah

Pejuang Subuh Pondok Indah menggelar kajian Virtual pada Sabtu (5/9/2020) bersama Ust. Salman Al-Farisy, Lc.M.A dengan kajian sirah nabawiyah dengan tema “Perniagaan dan Dakwah”. Kajian ini diharapkan para jamaah tidak melupakan sunnah Nabi yaitu berdagang. Dengan berdagang umat Islam bisa menguasai perekenomian.

Beliau menyampaikan, sebelum berdakwah Nabi juga berdagang. “Ketika Nabi menikah dengan Siti Khadijah, Nabi sudah berdagang ke Syam dan kota lainnya. Berdagang adalah sunnah Nabi. Melalui kajian ini, bagaimana masjid dan pesantren menciptakan entrepreneur dalam membangun perekonomian. Eknomi belum dipegang oleh umat Islam. Kita meninggalkan sunnah nabi yang sangat vital yaitu berdagang,” ujarnya.

Menurutnya, harus ada kurikulum menjadi entreprenur. “Harus ada kurikulum entreprenur, pengurus pejuang subuh pondok indah bisa mengadakan training antara pemodal dan pengelola. Hal ini akan memunculkan pedagang-pedagang baru. Misalnya, pengelolaan peternak sapi yang dikelola oleh santri di pesantren bekerja sama dengan lembaga lain, jika ada hasilnya dibagi berapa persen sesuai kesepakatan,” terangnya.

“Ada 6 juta masjid yang terdata, bayangkan ada 10 enterpreneur profesional lahir berbasis masjid. Diluar orang-orang islam, tidak mengurusi aqidah, justru mereka menguasai ekonomi. Cobalah membuat strategi dengan menganalisa, kenapa ekonomi tidak bisa dikuasai oleh umat Islam. Sunnah berdagang harus diperhatikan, saat ini kita hanya mngurusi sunnah memelihara jenggot, celana cingkrang, jilbab lebar, namun lupa dengan sunah berdagang,” lanjutnya.

Beliau mendorong agar bisa menghidupkan mesin berdagang.”Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah bisa menjadi fasilitator, menghidupkan mesin berdagang, menghidupkan ghirah berdagang. Kita perlu membangun semangat Islam agar menjadi pedagang. Hampir semua pasar besar dan modern dimiliki oleh orang non muslim. Mereka pintar melihat peluang tempat. Market place juga dikuasai bukan oleh orang Islam,” ungkapnya.

“Umat Islam bergotong royong agar bisa menguasai perekonomian di negeri ini. Islam itu mulia, namun kenapa banyak yang mengolok-ngolok Islam. Umat Islam juga harus intropeksi diri. Kita masih ribut dengan hal-hal yang kecil, masalah furiyyah seperti maulid, tahlilan, tapi kenapa tidak memikirkan hal yang besar yang berdampak pada aspek sosial,” sambungnya.

Salman melanjutkan, bahwa perniagaan dan dakwah bisa berjalan seiring sejalan. “Misalnya ketika kita memakai simbol islam sperti peci, jubah kemudian kita membuka lapak. Ketika produk/barang kita dinikmati, maka pembeli akan simpati karena dilayani dengan akhlak yang baik. Maka mereka akan simpati dan tertarik dengan kita, maka itulah dakwah. Saat kita bertransaksi dalam berdagang, kita juga bisa berdakwah. Jadikan semua transaksi dipermudah. inilah yang membuat non-muslim menjadi tertarik. Sebagaimana Wali songo mengajarkan dan berdakwah sehingga masyarakat tertarik. Bagaimana para habib luar batang, habib di ditegal, habib empang bogor, mereka juga berdagang, memberikan pelayanan dan berdakwah. Kemurahan, keikhlasan, kepedulian, membuat masyarakat simpati dan mengenal Islam,” paparnya.

Salman juga pernah mempunyai pengalaman saat berdagang. “Saya pernah berbisnis travel, jika tidak human eror, perusahaan itu mungkin itu masih ada. Saya pernah menjual kurma saat di Mekkah tanpa modal. Dengan berdagang, kita bisa berdakwah dengan melakukan pelayanan yang baik baik, amanah, kejujuran, hal inilah yang membuat mereka tertarik dengan Islam. (dedar)

Categories: Kajian Sirah

Post Your Thoughts