Perspektif Al-Quran dan Hadis tentang Musibah (Covid-19)

Oleh : Ust Dr. Attabik Luthfi, M.A

Selama Ramadhan di saat pandemi Corona. Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah (PS-MRPI) pada Minggu (26/04/2020) kembali menggelar kajian online bersama Ust. Dr. Attabik Luthfi, M.A dengan judul Perspektif Al-Quran dan Sunnah tentang Musibah (Covid-19). Berikut inti sari kajiannya.  

Mari kita menyimak surat Al-Baqarah ayat 26 yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?” Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik.”

Termasuk tentang laba-laba yang ada di surat Al-Ankabut ayat 50 ditutup dengan ayat Al-Ankabut ayat 52 bahwa semua perumpamaan tersebut hanya dapat dimengerti oleh orang yang berilmu. Hikmah yang bisa kita ambil dari perumpamaan tentang hewan.

Se-ekor nyamuk dan laba-aba adalah makhluk kecil ciptaan Allah Swt yang membuat manusia tidak berdaya. Walaupun cuma makhluk kecil manusia tidak boleh meremehkan. Begitu juga dengan virus yang tidak tampak kasat mata. Begitu juga setiap musibah yang terjadi menjadi ujian untuk kita. Jika Allah sudah berkehendak tidak ada yang mampu menghindar.

Musibah adalah sesuatu yang terjadi pada seseorang. Secara praktis yang tidak mengenakan,

Didalam surat At-Tagabun ayat 11 yang berbunyi maa ashoba mushiibatin illaa bi idznillah. “Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Mendapat bencana juga itu musibah atas kehendak Allah. Imam Ibnu katsir mengatakan ini merupakan takdir dan ketentuan Allah Swt.Semua kejadian adalah ketetapan dan ketentuan Allah. Seperti wabah Covid-19.

Berharap itu wajib agar virus ini cepat diangkat Allah, tapi jika covid 19 akan menurun di bulan tertentu, itu mendahulukan Allah, semua atas izin Allah. Semua bisa memprediksi dan meramal. Tapi semua Allah yang berkehendak.

Didalam surat Al-Hadid ayat 22 mā aṣāba mim muṣībatin fil-arḍi wa lā fī anfusikum illā fī kitābim ming qabli an nabra`ahā, inna żālika ‘alallāhi yasīr. “Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.”

Memaknai musibah dan perspektif Al-Quran. Musibah terjadi pada bumi juga pada diri manusia. Musibah terjadi bisa jadi karena ulah tangan manusia. 

Ikhtiar dilakukan oleh elemen masyarakat. Dengan cara apapun untuk menjaga jarak, karantina, lockdown dan sebagainya. Ada juga  dengan cara ber-infak dan bersedakah juga bagian dari ikhtiar. Korelasi ibadah harta dengan musibah juga ikhtiar.

Didalam surat Al-Hadid ayat 23 likai lā ta`sau ‘alā mā fātakum wa lā tafraḥụ bimā ātākum, wallāhu lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhụr  artinya “Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,”

Jangan berputus asa jika luput darinya. Juga jangan terlalu gembira dan berbangga apa yang diberikan Allah kepada kita. Sikap kita ada dipertengahan.

Ada sakit secara psikis dan fisik. Sakit secara psikis bisa menurunkan imun bagi fisik. Menyikapi setiap musibah harus tenang. Sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 156 dan 157. “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)”. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Sikapi suatu musibah dengan  tenang. Jika tidak tenang akan berakibat kepada psikis. Menyikapinya jangan berlebih-lebihan hingga berdampak pada psikis dan imun kita.

Didalam surat As-Syura ayat 30 yang artinya “Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Musibah terjadi karena perilaku buruk manusia. Ulah tangan manusia. Kemaksiatan yang dilakukan manusia. Maksiat itu ada dua, secara bathin dna lahiriyah. Secara bathin berprasangka buruk kepada Allah. Secara lahiriyah merusak tatanan.

Kita sama-sama mengoreksi, merefleksikan, jangan-jangan ini kesalahan kita. Maka berdoa menjadi sarana bertaubat kepada Allah.

Nabi ayyub orang shaleh juga kena musibah juga. Allah uji dengan berbagai musibah, mulai dari harta, kehilangan anak hingga diberikan penyakit.

Perbanyak bertaubat dan beristigfar kepada Allah, musibah yang terjadi bisa jadi karena ulah perilaku manusia. Semua yang hilang akan di ganti sama Allah yang lebih baik, bukan lebih banyak.

Didalam surat At-Taubah ayat 51 “Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.

Tawakal ada 2 yaitu takawal yang sungguh-sungguh dan  yang tidak sungguh-sungguh. Setiap musibah yang terjadi, Allah menjadi pelindung kita dan berserah diri kepadanya.

Mari simak surat Ar-Rad ayat 39 “Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).

Semua di tentukkan oleh Allah. Tapi hak Allah yang jadi pertimbangan untuk merubah agar menjadi wasilah dengan doa dan segala amal sholeh yang kita lakukan, misalnya dengan bersedekah dan membantu sesama yang membutuhkan.

Simak surat Al-Munafiqun ayat 10 yang artinya “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.”

 Jika jatah hidup didunia sudah habis, dia minta tempo supaya bisa hidup kembali ke dunia untuk bisa bersedekah. Ia menyesal kenapa dulu di dunia tidak bersedekah.

Penulis : Deni Darmawan

Categories: Kajian Tadabbur

Post Your Thoughts