Tadabur Qur’an : Doa Masa Depan (Mustaqbal)-Ust. Dr. Attabik Luthfi, M.A

Kajian tadabur Qur’an yang digelar oleh komunitas pejuang subuh pondok indah di masjid raya pondok indah semakin menarik untuk disimak. Kajian digelar setelah ba’da subuh (26/01/2020) setelah jamaah melaksanakan qiyamulail dan sholat subuh berjamaah. Narasumber kali adalah Ust. Dr. Attabik Luthfi, MA yang menjelaskan tadabur qur’an surat al-baqarah ayat 129.

Ustadz Attabik menjelaskan, bahwa surat al-baqarah ayat 128 merupakan doa nabi Ibrahim As untuk dirinya dan anaknya. “Dalam proses peninggian ka’bah, nabi Ibrahim berdoa agar menjadi muslimaini, dua orang yang berserah diri kepada Allah SWT. Kemudian nabi Ibrahim berdoa untuk anak, cucu, dan keturunannnya,” jelas dosen IAIN Cirebon ini.

Ulama tafsir menjelaskan bahwa doa ini adalah doa mustaqbal (doa masa depan). “Doa penyerahan diri kepada Allah SWT dan seluruh keturunannya. Do’a ini terkait dengan surat al-furqon ayat 74, doa untuk keturunannya yang berserah diri kepada Allah SWT,” ungkapnya.

Setelah selesai proses meninggikan ka’bah berdua, mereka akan melaksanakan manasik haji. “Setelah ka’bah dibangun dan ditinggikan oleh nabi Ibrahim As dan anaknya, nabi Ismail As, keduanya melaksanakan manasik/tata cara ibadah haji. Maka nanti berduyun-duyun manusia menunaikan ibadah haji. Seperti membangun pesantren, mensejajarkan tata cara bagaimana memakmurkannya, hingga menjadi keberkahan untuk santri-santrinya,” ujarnya.

Dalam doa nabi Ibrahim As agar diutus dari kalangan orang-orang mekkah. “Nabi Ibrahim berdoa untuk kalangan penduduk disekitar ka’bah agar diutus seorang nabi dan rosul dari kalangan mereka, maka nanti lahirlah nabi Muhammad SAW dari keturunan nabi Ismail As, yang akan memakmurkan ka’bah,” kata ustad Attabik yang menyelesaikan gelar doktornya di Universiti Kebangsaan Malaysia.

Ustadz melanjutkan, dalam surat al-baqarah ada 3 misi nabi. “Pertama, membacakan ayat-ayat Allah SWT. Membacakan ayat-ayat Allah merupakan metode pembelajaran yang efektif. Dimana guru membacanya, dan si murid mendengar dulu kemudian mengikutinya. Bagaimana cara membaca izhar, idgham, ikhfa. Hal ini juga sebagaimana malaikat jibril membacakan kepada nabi Muhammad SAW. Kemudian nabi membacakan kepada para sahabat. Kedua adalah mengajarkam ilmu pengetahuan dengan hikmah. Ilmu yang dikaitkan dengan al-quran dan hadis hingga menjadi pengetahuan ilmiah tingkat tinggi. Misalnya lalat yang tercelup air, sayapnya ada yang jadi racun dan penawarnya. Lebah yang menghasilkan madu, kadar madu untuk mengobati sesuai kadar pemakaiannya. Para ilmuwan membahas luas akan hal tersebut. Ketiga adalah menyucikan jiwa dan hati mereka setelah mendapat ilmu yang bermanfaat. Imam Ghazali membahas ilmu yang membersihkan hati (tasawuf/tazkiyatun nafs), menjadi tawadhu, maka orang yang paling takut adalah para ulama atau ilmuwan,” paparnya. (Deni Darmawan)

Categories: Kajian

Post Your Thoughts