Pentingnya Mendakwahkan Kalimat Tauhid- Ust. Dr. Yaqub Amin, M.A

Komunitas Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah ( PS-MRPI ) kembali menggelar kajian setiap sabtu pagi ba’da subuh setelah sholat qiyamulail berjamaah.. Dalam kajian kali ini, yaitu kajian tauhid yang disampaikan oleh ustadz Dr. H.M. Yaqub Amin, M.A pada Sabtu (25/01/2020) di Masjid Raya Pondok Indah (MRPI).

Dalam awal kajiannya ustadz Yaqub sedikit mengulas kembali pembahasan pada pertemuan sebelumnya. “Yang pertama agar kualitas iman dan taqwa kita semakin bertambah yaitu dengan banyak beribadah dan merespon cepat panggilan Allah Swt. maka selalu perhatikan sabda Rasulullah bahwa kita harus mewaspadai keadaan keimanan yang adakalanya bertambah keimanan itu dengan ibadah dan dapat berkurang atau menurun dengan maksiat. Maksiat dalam konsep ini mengandung arti membangkang, mengingkari atau tidak perduli dengan melakukan maksiat, berzina, berjudi, berbuat zalim,” terang guru besar UIN Syarif Hidayatullah ini.  

Lalu yang kedua mengenai solat subuh yang mempunyai banyak manfaat diantaranya solat subuh merupakan jaminan harta, jiwaraga, keimanan dan jaminan Islam. “solat subuh juga menjadi kunci supaya terhindar dari azab api neraka. Seperti yang telah disampaikan bahwasanya siapa yang melaksanakan solat isya berjamaah maka baginya seperti orang yang melaksanakan solat sunah separuh malam, dan siapa yang mendatangi solat subuh berjamaah maka baginya seperti orang yang melaksanakan solat sunah semalam suntuk atau sepanjang malam sebagaimana di riwayatkan oleh Bukhori dan Muslim,” ungkap dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi penuh semangat.

Materi selanjutnya mengenai kita tauhid halaman 74. Diawali dengan pentingnya mendakwahkan kalimat tauhid. “Sungguh kamu akan mendatangi orang-orang ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) maka hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan  kepada mereka adalah syahadat La Ilaha Illallah –dalam riwayat yang lain disebutkan: “supaya mereka mentauhidkan Allah”- jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam, jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya dan Allah hadis riwayat Bukhari dan Muslim,” jelasnya.

Faedah yang terjangkau lainnya diisyaratkan mengutus para da’i untuk mengajak manusia kepada jalan Allah. “Dikuatkan dalam surat Al-fussilat ayat 33 yang artinya siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?,” ujarnya.

Ayat di atas dikuatkan dengan QS Al Imran ayat 104. “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Dan yang terakhir dalam surat An Nahl ayat 125 artinya Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Ayat-ayat yang di sampaikan merupakan dasar-dasar untuk mengajak orang-orang kepada kebaikan,” tegas ustad Yaqub Amin.

Kemudian konsep dakwah yang di gunakan oleh rasul adalah dengan mengutus para sahabat. “Dakwah yang diajarkan hanya satu materi yaitu La Ilaha Illallah. Dalam tingkatan dakwah tertinggi pun sebenarnya syahadat atau kalimat tauhid. Kemudian dakwah dilakukan secara bertahap dari yang paling penting kemudian penting dan seterusnya,” jelas ustadz Yaqub yang menyelesaikan gelar doktornya di pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah.

“Selanjutnya adalah makna La Ilaha Illallah yaitu mentauhidkan Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepada Allah semata-mata serta meninggalkan peribadahan kepada selain-Nya. Jika ditarik kesimpulan maka kaya kunci kalimat La Ilaha Illallah adalah membesarkan Allah dan ikhlas beribadah hanya kepada Allah. Berikutnya seorang kafir tidak akan dihukumi menjadi muslim kecuali dengan mengakui serta mengucapkan dua kalimat syahadat,” lanjutnya.

Ustad Yaqub juga mengungkapkan satu kalimat komitmen yaitu salah satu ungkapan terkenal dalam bahasa Arab. “Nahnu da’aa walaakin Qudhoo, bahwa kami ini para da’i atau mengajak bukan hakim atau memvonis. Penyampain dakwah orang yang berilmu akan berbeda dengan orang yang tidak berilmu.  Maka dari itu dakwah itu didasarkan pada ilmu supaya tidak berpotensi menyimpang. Disamping itu kita juga wajib melaksanakan solat lima waktu dalam sehari semalam dengan manfaat sebagai sarana penghapusan dosa,” ungkapnya. (Deni Darmawan)

Categories: Kajian

Post Your Thoughts